Setelah pekan lalu berbicara soal intoleransi, Gerakan Menolak Bodoh kali ini akan bicara soal “Pemilu dan Bencana Alam”. Sepintas, politik dan bencana alam terkesan tidak nyambung. Padahal, dua topik ini punya kaitan yang sangat erat. Indonesia adalah negeri dengan resiko bencana tertinggi kedua di dunia. Hanya Bangladesh-lah negara yang lebih kacau daripada kita dalam urusan bencana. Ironisnya, perhatian kita pada bencana alam sangatlah minim. Berulang kali mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga BBM. Berulang kali pula para aktivis Facebook dan Twitter memprotes pembunuhan kucing. Akan tetapi, seberapa seringkah sebuah tuntutan diajukan agar negara menangani bencana dengan benar?
Sebagai negara yang bisa dihantam gempa skala besar sewaktu-waktu, fenomena ketidakpedulian ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, penanganan bencana yang tidak asal-asalan adalah kunci bagi keselamatan nyawa kita. Jadi, ketika masyarakat kita seolah tak peduli, kita punya dua kemungkinan. Pertama, masyarakat negeri ini menganggap enteng bencana. Kedua, masyarakat negeri ini tidak berkepentingan terhadap nyawa mereka sendiri. Mungkin, masyarakat kita berpikir mereka adalah Limbad.
Fenomena ketidakpedulian ini nampak jelas ketika pemilu makin dekat. Jika kita perhatikan iklan partai politik atau kampanye mereka, kita akan begitu sukar menemukan topik bencana alam dibicarakan. Kita akan lebih mudah menemukan goyangan tak bermoral dan nyanyian yang berisik. Paling banter, juru kampanye akan bilang bahwa mereka mampu menyejahterakan Indonesia dengan cara menggratiskan segala sesuatu (termasuk nyawa kita, mungkin?). Setelah itu, goyangan mulai lagi.
Ironisnya, gejala ketidakpedulian ini mulai menjangkiti gerakan mahasiswa. Gejalanya sederhana: bicara pemilu terlalu banyak sampai topik lain tak disinggung sama sekali. Kami tentu saja terjangkit penyakit itu. Dan lewat rangkaian tulisan ini kami berusaha menyembuhkan diri. Kami ingin terus bicara pemilu tanpa melupakan isu-isu lain yang juga tak kalah penting; sambil sedikit demi sedikit memupuk pengetahuan kita agar kita mampu melakukan partisipasi yang bermutu. Mengutip judul kajian kawan-kawan BEM Peternakan UGM, tahun 2014 ini sebenarnya “bukan sekadar tahun pemilu”.
Meski ada tendensi ketidakpedulian seperti yang dipaparkan di atas, bukan berarti masyarakat Indonesia tak gemar tolong-menolong. Setiap kali ada bencana, masyarakat kita seringkali menggalang dana, menjadi relawan, mengirimkan donasi hingga memutar lagu Ebiet G. Ade atau You Raise Me Up-nya Josh Groban. Hal ini menunjukkan bahwa semangat tolong-menolong kita masih jauh dari kata mati. Meski demikian, untuk bertahan hidup di negeri yang cantik ini, kita perlu lebih dari sekadar tolong-menolong. Kita memerlukan partisipasi yang luas: sebuah partisipasi yang melampaui pemilu; sebuah partisipasi yang lebih dari sekadar nyoblos. Dan partisipasi dalam hal ini bukan sesuatu yang main-main: ini soal nyawa, Sob.
Masalah Paradigma, atau “Apa yang salah dengan otak kita?”
Entah kita sadari atau tidak, masyarakat kita masih memegang pola pikir responsif dalam melihat bencana alam. Pola pikir itu mendoktrin kita untuk melihat bencana alam sebagai musuh. Bencana dilihat sebagai sosok yang membawa kesedihan dan air mata. Padahal, bencana alam pada dasarnya adalah hal yang alamiah. Apa salahnya jika bumi mendadak menggeser formasi lempengnya? Apa salahnya jika sebuah badai terbentuk? Apa salahnya jika turun hujan yang deras? Tak peduli manusia pernah ada atau tidak, bumi punya urusannya sendiri. Sedari awal, bumi memang gadis cantik yang dinamis, banyak bicara dan banyak tertawa. Kita tak bisa mengubahnya. Tetapi kita bisa menyesuaikan diri dengannya.
Bencana bukanlah hukuman buat seorang remaja SMP yang memberikan sepotong coklat dan sebatang mawar untuk teman sebangkunya di hari Valentine. Bencana sepintas menjadi sosok yang menyeramkan karena manusia tidak menyesuaikan diri dengan gerak-gerik alam. Ketidaksiapan manusia untuk hidup bersama dengan alam menjadi sumber utama kehilangan, kerugian dan kesedihan. Banjir Jakarta bukan salah curah hujan yang tinggi, tetapi salah Jakarta yang tidak siap menghadapi curah hujan yang tinggi. Gempa bukan salah alam, tetapi salah masyarakat yang tidak siap menghadapi gempa. Mudahnya: dinamika alam hanya akan jadi bencana ketika manusia tak bersiap menghadapinya. Bencana terjadi tatkala kita tak berdamai dengan alam. Untuk menyederhanakan, mari kita sebut pola pikir ini sebagai pola pikir adaptif.
Berbeda dengan pola pikir responsif yang baru bereaksi setelah bencana terjadi atau menjelang bencana terjadi, pola pikir adaptif berusaha menciptakan masyarakat yang siap setiap saat. Hal ini jauh lebih memadai buat Indonesia karena kita tidak selalu bisa meramal kapan bencana terjadi. Bencana bisa datang dua tahun lagi atau sepuluh menit lagi. Oleh karena itu, masyarakat mesti selalu siap. Andai bencana datang dan kerugian muncul pun, masyarakat harus bisa bangkit lagi dan menjalani hidup seperti sediakala.
Ketika rangkaian bencana terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, penanganan bencana relatif kacau. Kompas menyebut pemerintah kita “gagap”. Di Indramayu, bantuan makanan tak datang sampai akhirnya pengungsi memblokir jalur Pantura dan melakukan penjarahan. Di Tulangbawang, ketiadaan makanan membuat korban banjir terpaksa makan singkong yang dijemur. Dan tahukah Anda: bahwa di Kabupaten Karo, badan penanggulangan bencana baru dibentuk satu hari sebelum SBY datang ke sana untuk meninjau letusan Sinabung.
Melihat gambaran-gambaran di atas, kami sejujurnya kesulitan untuk melihat pola pikir mana yang pemerintah pakai. Pola pikir adaptif jelas belum diadopsi. Namun, pola pikir pemerintah tidak juga responsif. Kebingungan kami bertambah ketika kami membaca visi partai politik di topik bencana. Jangankan memperoleh visi yang komplet, menemukan kata “bencana” di dalam dokumen partai saja kami sudah bersyukur. Mencari visi partai yang bermutu soal bencana alam ibarat mencari sapi di kamar kos.
Partai-partai rata-rata bicara hal yang klise seperti ajakan untuk menjaga alam. Hal ini bisa kita temui di PDIP, PKS, Nasdem, Gerindra, Golkar hingga PKB. Nasdem bicara lebih dalam dengan menekankan pentingnya mendeteksi potensi bencana. PKS menyoroti aspek respon terhadap bencana dan faktor kepemimpinan. Demokrat menyinggung aspek rekonstruksi bencana. Minimnya informasi yang diberikan partai ini sebenarnya menunjukkan bahwa isu bencana alam tidak cukup seksi untuk diolah dan dijadikan alat propaganda. Tetapi, hal ini sebenarnya wajar bagi partai. Buat apa bicara sesuatu yang tak dipedulikan orang-orang?
Epilog
Dalam Gerakan Menolak Bodoh, kami berusaha untuk memperlebar makna partisipasi, mencegahnya dari kebekuan yang disebabkan oleh kemandegan pikiran dan kemiskinan wacana. Ketika semua orang menyempitkan makna partisipasi menjadi sekadar mencoblos, maka tugas gerakan ini adalah untuk mencoblos orang-orang itu.
Di ranah yang lebih praktis, kita dapat melakukan partisipasi dengan cara ikut mengubah masyarakat menjadi lebih adaptif pada alam. Salah satunya dengan membuat masyarakat lebih setara. Dengan adanya kesetaraan, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menimba ilmu tentang bencana. Dalam masyarakat dengan ketimpangan dimana-mana, orang kaya punya banyak waktu dan uang untuk belajar sementara mereka yang kurang mampu harus menghabiskan waktu mereka di pabrik bercengkrama dengan mesin pemintal kain. Sementara sebagian orang belajar sambil menikmati kopi yang hangat, sebagian orang diperalat acara joged massal di salah satu televisi swasta yang entah kenapa tak kunjung dibubarkan. Akibatnya, hanya sebagian masyarakat saja yang tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri tatkala bencana mampir. Sementara sebagian masyarakat pergi ke tempat yang aman, sebagian lainnya mungkin tak akan ambil pusing atau malah panik setengah mati. Sebuah masyarakat di mana pusat perbelanjaan megah bersanding dengan pemukiman kumuh tak hanya mencerminkan kekejian. Masyarakat itu mencerminkan bahaya besar yang diam-diam mengintai dari kegelapan.
Berangkat dari uraian di atas, kita tahu bahwa partisipasi dalam konteks bencana alam harus dimulai dengan mengubah pola pikir. Alam bukanlah musuh. Alam adalah gadis cantik yang kadang labil. Walau demikian, selabil apapun gadis itu, kita tak bisa hidup tanpanya. Kita bukan siapa-siapa tanpa alam; tanpa gadis itu. Jangan lihat amarahnya sebagai murka, lihatlah sebagai pesona. Jangan lupakan ia demi pesta lima menit yang biasa saja.
Oleh karena itu, tugas kita pada dasarnya adalah menyesuaikan diri dengan alam. Dan hal itu hendaknya dimulai dengan mengubah cara pikir. Manajemen bencana alam harus menjadi salah satu agenda utama perjuangan negeri ini di masa depan. Jika kita masih saja abai dengan isu ini, masa depan negeri ini mungkin akan ditemukan di bawah reruntuhan gedung bertingkat; hanyut bersama air bah yang datang menyergap waktu Subuh.**
0 Comments